Yudi Latif, Nasionalisme dan Komitmen Ber-Pancasila Kita

 

Sumber Gambar: pixabay.com
                                                                                                       

            Membicarakan Pancasila di era kekinian rasanya tidak lengkap jika tidak menyertakan Yudi Latif, sebagai seorang tokoh yang gandrung menggaungkan nilai-nilai pancasila. Pasalnya beliau merupakan salah satu dari sekian banyak cendekiawan di negeri ini yang begitu vokal dalam membumikan falsafah pancasila ke dalam sendi-sendi kehidupan bernegara—tentu ini sejauh pengamatan saya. Pancasila dan dirinya ibarat busur dan anak panah. Saling lekat dan melesatkan.

            Ketertarikan saya menelusuri kiprah Pak Yudi Latif bermula ketika saya pertama kali membaca satu buah karyanya berjudul “Makrifat Pagi”. Buku karya beliau itu sengaja dipinjamkan guru pembimbing saya (Pak Lukman) untuk sebuah proyek kepenulisan. “ini, loh, tokoh negarawan yang rajin menulis tema-tema pancasila” tutur Pak Lukman sembari mengulurkan satu buku dengan sampul bergambar matahari terbit, “kamu bisa belajar menulis esai-esai pancasilais melalui beliau” imbuh Pak lukman.

Buku tersebut menjembatani perkenalan pertama saya dengan Pak Yudi Latif. Selanjutnya, penelusuran saya jatuh pada tulisan-tulisan beliau di media masa dan di jurnal-jurnal penelitian. Saya cukup kagum melihat ghirah beliau dalam upaya menyublimasikan nilai-nilai pancasila ke dalam hati nurani masyarakat Indonesia.

Ghirah itu terlihat alami, beliau menjadikannya sebagai bentuk tanggung jawab pribadi--tentu sebagai wujud kecintaan putra pribumi kepada ibu pertiwi . Bukan semata-mata karena mengincar nama besar, atau pun sebuah jabatan politik. Hal ini dapat kita tilik melalui kiprah beliau sebelum atau pun sesudah dikukuhkan sebagai Kepala Pelaksana Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP)  ia tetap saja gemar mengaktualisasikan Pancasila dalam karya-karyanya.

Inilah yang patut dikagumi, beliau begitu intens menggelorakan satu nilai (Value) dalam hidup. Satu value yang teramat beliau percaya, yakini dan diperjuangkan secara nyata. Saya pikir tidak begitu banyak orang yang konsen dalam satu bidang dan mau memperjuangkannya secara terus menerus--Tanpa gaji tanpa kursi. Dan, justru karakter seperti itulah yang patut diteladani—jika ingin berguna untuk agama, nusa dan bangsa, seperti slogan-slogan yang terpampang di foto anak ketika baru lahiran. Ya, "semoga putra kami menjadi anak yang saleh, berguna untuk agama, nusa, dan bangsa" begitulah biasanya tertulis.

Jika ingin mengimplementasikan apa yang sudah menjadi harapan sejak lahir, Saya pikir setiap orang memang harus seperti itu-- memagang setidaknya satu saja value yang secara continuo diperjuangkan sepanjang hayat. Bentuk  value itu bisa sangat beragam, sesuai kecenderungan dan kemauan setiap individu—asalkan itu baik dan mengarah pada harapan tadi: “bermanfaat untuk agama, nusa dan bangsa.

 Satu “value” itu bisa saja diwujudkan dengan berbagai hal, misalnya: menularkan budaya baca, memberantas korupsi, menyuarakan kesetaraan disabilitas, menyuburkan budaya toleran beragama, menjadi pionir kebersihan desa, menghidupkan segi spiritual remaja, dan lain sebagainya. Jika setiap orang mau memperjuangkan satu saja value (sekecil apapun) untuk negeri ini, maka sekumpulan value yang diperjuangkan setiap orang itu akan menjadi sambungan mata rantai. Dan, mata rantai itulah yang akan menarik gerbong kebangsaan menuju tujuan terhormat bangsa.

   Kembali kepada Pak Yudi Latif—yang memegang satu value Pancasila itu, Pemikiran Pak Yudi Latif cukup membekas dalam diri saya. Cara beliau begitu halus dalam menyampaikan buah gagasannya mengenai integral (keutuhan) pancasila dengan nilai-nilai luhur ketimuran. Di beberapa tulisannya beliau  mencoba meng-erat-kaitkan antara falsafah pancasila dengan nilai-nilai inti yang terkandung dalam agama--terkhusus Agama Islam.

 Meskipun, kita tahu, awal mula terlahirnya pancasila sempat pula terjadi perdebatan mengenai “apakah Pancasila mampu menjadi ideologi negara yang mengandung nilai-nilai religiusitas Islam sekaligus mampu merangkul nilai-nilai agama lain secara menyeluruh atau berdiri sendiri sebagai ideologi negara yang sekuler?”

Pertanyaan itu kemudian menimbulkan semacam diskursus dan dialektika yang cukup panjang, sebelum akhirnya disepakati bahwasannya kedua komponen tersebut bisa menjadi suatu nilai yang bersifat “saling menyatu”. Dalam ranah lain, pergulatan wacana mengenai karekter “nasionalis” yang harus dimiliki setiap warga negara juga sempat mengemuka di benak para Founding Father .

Hal ini terlihat dari kritikan Agus Salim yang sempat dikutip Yudi Latif dalam salah satu bukunya. Suatu ketika Agus Salim mempertanyakan melalui sebuah tulisannya mengenai  segi kepantasan Bangsa Ketimuran menanamkan nilai-nilai nasionalisme ala Eropa, sedangkan secara kultur, budaya dan semangat kebangsaannya sudah berbeda antara Bangsa Eropa dan Indonesia. Hal itu Agus Salim sampaikan melalui media cetak Fajar Asia sebagai berikut:

“Atas nama tanah airnya masing-masing dari kita lihat bangsa-bangsa Eropa merendahkan derajat sebagai bangsa luar Eropa, bagi meninggikan derajat bangsa-bangsa Eropa atas segala bangsa luar Eropa, atas dasar keduniaan yang bersifat benda yang sampai menyabilkan nyama. Sebab benda dan rupa habis gunanya, apabila nyawa sudah tiada. Maka sebagai dalam tiap-tiap hal yang mengenai dunia kita, demikian juga dalam cinta tanah air, kita mesti menunjukan cita-cita yang lebih tingi dari pada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak keadilan dan keutamaan yang batasan dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah SWT” (Fajar Asia No.170/Tahun 1928)

Dari ungkapan tersebut, Agus Salim seperti ingin mengungkapkan bahwa seharusnya nasionalisme yang dijadikan pijakan untuk memperjuangkan arah tujuan bangsa tidak lantas menghalalkan segala cara--seperti nasionalisme ala Eropa. Bangsa Eropa kala itu mewujudkan rasa nasionalisme dengan semangat membabi buta dan merendahkan negara lain di luar Eropa, dengan jalan penjajahan dan peperangan.

Cinta tanah air tak semata-mata dibuktikan dengan membela secara buta (fanatik buta) negara kelahiranya dan mengenyampingkan rasa keadilan serta hukum Tuhan. Sebab mengejar materi, saling bunuh dan menghamba kepada dunia menurut Agus Salim ialah betolak belakang dengan cita-cita berbangsa. Justru karakter nasionalisme buta itulah yang menjadikan keruntuhan sebuah martabat dan kehormatan sebagai bangsa. Sebab bangsa diciptakan atas keinginan hidup bersama dan bersinergi untuk "memperjuangkan" cita-cita bersama, bukan untuk "menyerang" bersama.

Namun, soekarno mengungkapkan penafsiran lain mengenai “arti” nasionalisme yang ia usung untuk Indonesia. Sehingga, soekarno menuliskan pemahamannya terkait perbedaan nasionalisme versi Eropa dan Indonesia, sebagai berikut:

Nasionalisme kita ialah nasionalisme ketimuran dan sekali-kali bukanlah nasionalisme kebarat-baratan yang menurut perkataan C.R. Das adalah suatu nasionalisme yang menyerang-nyerang, suatu perdagangan yang untung rugi. Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi “Perkakas Tuhan” dan membuat kita hidup dalam roh.

Soekarno mengklarifikasi dan bermaksud menyamakan persepsi mengenai hakikat nasionalisme yang akan dijadikan pijakan bangsa ini. Dan, pembeda utama antara nasionalisme Eropa dengan Indonesia ialah pada sisi ketuhanan dan keadilan. Nasionalisme ketimuran ialah wujud dari kecintaan kepada tanah air yang semata-mata atas perintah Tuhan (Hubbul Wathon Minal Iman), bukan untuk menghamba pada hal-hal yang sifatnya materi dan keduniaan, apalagi sampai menghalalkan pertumpahan darah.

Pada pemaparan dialektika kedua tokoh founding father yang disajikan di dalam buku Yudi Latif tersebut, mengisyaratkan bahwa dari awal tercetusnya dasar dan ideologi negara, sudah terbangun kesadaran yang matang dalam menempatkan nilai-nilai luhur agama dengan falsafah negara pada posisi yang saling berkaitan.

 Selain itu, saya juga mengamati bahwa begitu sehatnya diskursus yang dibangun oleh para pencetus dasar negara. Mereka menyuarakan pemikiran melalui tulisan berbalas tulisan. Kritikan berbalas kritikan. Dan, sudah barang pasti tujuannya untuk sama-sama mewujudkan cita-cita bangsa ini.

Budaya semacam itu sudah tergerus dalam era kekinian. Padahal diskursus yang disampaikan melalui tulisan seperti yang dilakukan oleh Soekarno dan Agus salim tersebut bisa menjadi budaya yang sehat untuk menyampaikan gagasan dan buah pemikiran. Pun dalam hal keabsahan dan ketajaman analisisnya bisa dilacak dan dijadikan rekam jejak untuk pembelajaran generasi penerus selanjutnya. Namun, tentu segala lini harus memiliki kesadaran yang sama mengenai pentingnya kemampuan berliterasi, khususnya membaca dan menulis. 

Terlepas dari itu semua, melalui beberapa karya Yudi Latif, ia ingin mensyiratkan sebuah pesan bahwa nilai-nilai ketuhanan dalam kerangka pancasila mencerminkan komitmen nilai etis kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menyelenggarakan kehidupan publik politik yang berlandaskan pada niali-nila moralitas dan budi pekerti yang luhur.

Sebagai bangsa, kita—melalui para founding Father telah berhasil merumuskan Ideologi negara yang mampu merangkul semua lini masyarakat dari miangas sampai pula rote. Soekarno, Agus salim dan para pendiri bangsa lainnya telah lebur dalam tanah dan air yang menumbuhkan ribuan cinta. Pak Yudi Latif sudah mentasbihkan diri sebagai punggaung nilai-nilai pancasila. Kita pun sebagai putra-putri pribumi sudah sepatutnya menebarkan cinta dan value keseluruh sendi kehidupan dengan "nasionalisme dan falsafah pancasila" yang hidup di hati kita.

 

Catatan:  Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Rizaldy P. Pedju berjudul “Analisa Konsep Universalitas Nilai Islam dan Pancasila (Studi Pemikiran Yudi Latif) yang terbit di jurnal “Potret Pemikiran” Vol.23, NO. 2 (2019). Sebagaian Tulisan ialah hasil dari membahasakan ulangdan representasi beberapa pemikiran yang termaktub dalam jurnal tersebut.

 

     11 April 2021

-          Wasis.Zagara

Komentar